SELAMAT DATANG DI CERSEXIDN CERRITA TERUPDATE DAN TERPANAS
SELAMAT DATANG DI CERSEXIDN CERITA TERUPDATE DAN TERPANAS

Sunday, January 7, 2018

Bandar Poker Terpercaya

Thursday, January 4, 2018

Ngentot Polwan Cantik dan Seksi Sampai Orgasme



Namaku Risma seorang polisi wanita yang bertugas di sebuah kabupaten kecil di negeri ini. Seperti layaknya anggota polwan, tubuhku langsing dan kencang karena hasil latihan fisik rutin yang selalu di lakukan setiap hari. Warna kulitku kecoklatan khas negeri ini, banyak orang yang mengatakan warna kulitku eksotis. Tinggiku 169 dan tergolong tinggi semampai. Banyak orang yang bilang, semula tidak kupercayai, bahwa aku tergolong wanita dengan hasrat seksual yang besar. Mereka mengatakan ini karena sosok tubuhku agak bungkuk seperti bongkok udang. Tentu semua omongan ini hanya kuanggap omong kosong. Namun perlahan aku seperti membuktikan sendiri kebenaran omongan ini.

“rrrrrrrt,rrrrrrrrrrt” Tanda getar di ponsel menandakan ada sinyal sms masuk.

Sambil duduk di jok motor aku buka hp dan membaca isinya , “ Hai Mbak sexy kutunggu kamu di kontrakkan sudah kusiapkan kejutan yang manis buat kamu”.

Itu sms dari laki-laki misterius yang telah berhasil membuatku jatuh hati dan menyerahkan segalanya.

Naluri kewanitaanku secara alamiah bangkit bahkan hanya dengan membaca sms ini. Betapa mahirnya laki-laki yang bernama si Alex ini membuatku ketagihan secara seksual. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Dengan hati yang berdegup secara kencang, aku pacu sepeda motorku untuk menuju kontrakan Alex yang terletak tidak jauh dari asrama tempatku tinggal. Sebagai wanita, kami dibudayakan tertutup secara seksualitas. Bahkan kami tidak diajarkan oleh leluhur kami untuk menikmati aktifitas bersenggama dan berhak memperoleh kenikmatan yang sama seperti halnya laki-laki. Namun Alex perlahan namun pasti mengajarkanku arti nikmatnya berhubungan badan.

10 menit kemudian sampailah aku di kediaman Alex yang cukup mewah untuk ukuran warga kabupaten ini. Alex sendiri adalah seorang mahasiswa anak dari orang tua yang cukup berada. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dariku dan dia berkulit putih. Usianya 4 tahun dibawahku, Posturnya sangat terjaga karena dia rajin berolahraga. Awal pertemuan kami terjadi di sana.

Sebagai anggota kami diharuskan untuk menjaga bentuk tubuh. Apalagi untuk wanita, bulliying dari senior akan sangat sadis bila kedapatan tubuh kami sedikit berlemak. Sejak lulus dari asrama, olahraga pagi adalah makanan sehari-hari. Secara rutin aku berlari, fitness dan mengikuti aerobik yang diadakan di gor olahraga ataupun stadion kabupaten.

tempat fitnes Jos Gym yang menjadi saksi awal pertemuanku dengan Alex. Saat itu, ditengah keasyikan berlatih ada seorang laki-laki yang mendatangi dan menyapa.

“ halo, selamat sore, maaf mengganggu Mbak ini aparat ya?”
“ iya benar, Mas siapa ya??”
Jawabku dengan nada tegas dan ketus karena kami memang dilatih demikian.
“ perkenalkan nama saya Alex” sambil menjulurkan tangan, tanda ia ingin berkenalan.
“ Risma” jawabku sambil menjabat tangan Alex
“ Mbak maaf ya gerakannya sudah bagus kok, tapi kurang tepat, ini saya tunjukkan gerakan yang benar”
Alex kemudian mengambil dumbel tersebut dan mencontohkan gerakan yang tepat dibandingkan gerakan yang tadi aku lakukan.
“ Untuk latihan kaki gerakan yang benar seperti ini Mbak, harus jongkok sampai kebawah ,dengan ini Mbak bisa membentuk pantat, betis, tungkai dan tumit sekaligus”

Aku memperhatikan dengan seksama, sambil menaruh kesan awal yang baik kepada pemuda ini. Bahasanya baik, sopan, tempangnya ganteng, dan yang terpenting dia berani untuk mengajak ngobrol seorang anggota. Bukan rahasia umum, banyak laki-laki yang selalu melirik atau terpesona dengan kecantikan maupun kesexyan polwan yang biasa berbalut busana kerja ketat, namun sayang tidak mempunyai KEBERANIAN untuk mendekati kami. itulah yang membuat beberapa diantara kami kesulitan untuk menemukan pasangan hidup.

Tapi pemuda ini berbeda. Dia bisa mendekatiku dengan lembut dan sopan seperti gentleman. Mungkin itu alasan dia segera mendapatkan tempat di hatiku. Sore itu kami lalui dengan penuh senyum dan canda. Obrolan diantara kami begitu cair dan akrab. Kuperhatikan dari kaca yang bertebaran di tempat fitnes ini bagaimana Alex mencuri-curi pandang terhadap kesintalan tubuhku. Hari itu sebenarnya aku mengenakan pakaian yang biasa saja. Aku mengenakan kaos ketat tanpa lengan warna merah yang menampilkan keeksotisan warna kulitku. Mungkin karena ketatnya kaos yang kukenakan, buah dadaku yang tergolong cukup berisi juga terekspose secara maksimal. Untuk bawahan aku kenakan celana training panjang yang menutup rapat sampai mata kaki.

“ sekarang kita latihan trisep ya Mbak Risma” alex berkata sambil mengambil barbell ukuran 4 kg yang berada di rak.
“ bagaimana gerakannya??” tanyaku
Jujur olahrafga fitnes memang baru buatku. Di asrama aku biasa olahraga lari mengelilingi asrama, push up, sit up, atau berlatih bela diri karate yang memang diajarkan.
“ pegang barbell dengan kedua telapak tangan Mbak di ujungnya, Seperti ini. Kemudian angkat kedua tangan Mbak rapat di kepala, trus lengan ditahan, barbell diturunkan kebelakang kepala, satu set hitungan 10 kali”

Gerakan ini aku lakukan menghadap kaca besar di salah satu sudut Gym. Pada pantulan kaca aku bisa melihat kedua tanganku terangkat. Kaos tanpa lengan yang kukenakan membuat ketiakku dapat terlihat jelas oleh Alex. Dia berdiri tepat dibelakangku untu menahan kedua lenganku agar tetap lurus. Alex terlihat sangat terpesona dengan kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu itu. Selain itu posisi ini membuat bulatnya dadaku semakin menonjol karena kedua tanganku terangkat tinggi keatas.
“ ayo mulai Mbak 1……2………3”

Gerakan latihan trisep itupun dimulai dengan sebuah pantulan cermin yang cukup membuat jantungku berdebar. Posisi kami benar-benar menempel. Dapat kurasakan nafas Alex yang berderu lebih cepat. Bahkan tanpa Dia sadari ada benda yang tiba-tiba menonjol di bawah celana trainingnya. Alex terangsang batinku. Kunjungi juga VideoXidn.tk

“ Mbak Risma harum, aku suka bau badan Mbak….10 cukup”
Bisik Alex ketelingaku sambil mengambil barbell yang cukup berat untuk kuangkat .
Sambil mengambil nafas karena kelelahan dan sedikit horny kami lanjut ngobrol. Entah kenapa aku mudah sekali horny. Saat inipun wajahku bersemu merah, orang awam pasti melihat wajar wajahku merah karena habis olahraga tapi jujur sebenarnya aku terangsang. mungkin karena melihat seorang pria tampan yang berdiri tepat dibelakangku sambil pandangannya sangat mengagumi kemolekan tubuhku membuatku sangat terangsang. Atau juga karena tingkat stress di lingkungan kerjaku yang sangat tinggi yang membuatku mudah terangsang, entahlah.

“ Mbak kenapa ikut fitnes disini?”
“ iya biar badanku gak gemuk”
“ badan udah sexy gini kok dibilang gemuk”
“ hush badan semok gini kalo diliat seniorku masih dibilang gemuk tau”
“ berat ya pekerjaan Mbak”
“ iya makanya jarang ada cowo yang deketin aku”

Tanpa sadar aku mengucapkan pikiran negatif yang timbul sendiri. Mungkin karena perasaan bahwa kami ini karena tugas menjadi bukan seperti wanita normal.
“ ada aku kok Mbak Tanti yang mau sama kamu he he” kata Alex sambil bercanda
“ ha ha nanti juga kamu ketakutan sama aku, kayak cowo kebanyakan”
Ujarku sambil melagkah ke ruang ganti untuk berganti baju.

Pertemuan kami hari itu diakhiri tanpa ada yang spesial. Kami melangkah pulang kerumah masing-masing untuk kembali beraktifitas keesokan harinya.

Namun mungkin karena pertemuanku yang pertama itu dengan Alex, fitnes menjadi semakin rutin kujalani. Setiap sore kudatangi Jos Gym untuk berlatih. Alex juga demikian, dia selalu ada di tempat latihan setiap aku ada disana. Setelah dua mingguan rutin belatih kami baru tahu kalo sebenarnya rumah kami berdekatan. Jarak rumah kontarakan Alex hanya berjarak sekitar 7 menitan dari asramaku.

Selama dua minggu itu entah kenapa aku selalu ingin tampil sexy di hadapan Alex. Aku selalu mengenakan baju ketat tanpa lengan yang membuat lekuk tubuhku terlihat. Bahkan yang juga membuatku malu, aku mengenakan training panjang ketat yang bahkan membuat celana dalamku kadang-kadang terlihat. Penampilanku yang demikian rupanya membuat Alex juga semakin berbinar-binar matanya. Sering ketika kami sedang Alex tiba-tiba ijin untuk ke kamar mandi, katanya kebelet ingin buang air.

Hanya dalam dua minggu perubahan telah tampak di tubuhku. Pantatku semakin kencang, dan mungkin yang membuat Alex semakin berbinar adalah dadaku terlihat semakin berisi akibat latihan yang rutin. Gairah dan libidoku rupanya ikut berubah setelah latihan yang rutin. Kurasakan tubuhku begitu bergairah, namun sebagai wanita yang tidak tahu cara melampiaskannya, gairah ini kupendam sebisanya.

Sering terjadi ketika di asrama, gairahku meninggi kususnya pada malam hari. Biasanya menjelang tidur dengan libido seperti ini, kulepas seluruh busana yangmelekat di tubuhku, kadang cd tetap kekenakan kadang juga kutanggalkan . Sering teman-teman kamar yang tinggal seasrama terkejut ketika bangun dan menyadari bahwa sahabatnya tidur tanpa sehelai benangpun.

Buatku pribadi pengalaman tidur telanjang merupakan salah satu bentuk pelampiasan terhadap gairah yang begitu memuncak. Sering aku tidur tengkurap agar putingku yang tanpa penghalang bergesekan dengan seprei kasur dan sensaninya luar biasa. Cd yang melekat di daerah kewanitaanku sering kulepas dan tanganku yang nakal sering menggeseknya dengan guling atau selimut. Aku termasuk wanita yang pembersih. Setiap seminggu sekali selalu kucukur rambut-rambut yang tumbuh di arena intim dan ketiakku, dan melumurinya dengan ramuan tradisional yang mampu membuatnya bersih dan wangi. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur akupun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tau artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Alex mengajakku untuk aerobik pagi bersama.
“ mbak Risma besok aerobic pagi bareng yuk”
Itu bunyi sms Alex pada saat aku sedang bersiap tidur.
“ ayo kebetulan besok hari sabtu,kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi” jawabku
“horeeee, o ya boleh request gak Mbak Risma?”
“request apa ya Lex?”
“besok Mbak pake kaos merah yang sexy itu ya!”
“emang kenapa Lex?”
“gak apa Mbak , Alex senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu”
“yau udah besok Mbak pake baju itu deh”
“ makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama”
“ haa jam lima??? Gak kepagian tuh Lex??”
“ enggak Mbak udah rame kok jam segitu”
“ ya uda jam lima teng mbak sudah disitu, awas kamunya jangan telat ya mbak push up nanti”
“ siap Komandan”
Setelah tidur yang singkat, akupun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.
“ pagi Mbak Risma, mari masuk” seru Alex menaymbutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.
“ Alex kamu hebat tepat waktu, tadinya Mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame??”
“ hush sini deh Mbak ada yang Alex mau omongin ama Mbak”

Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.

Alex kemudian terus berjalan mengajakku kesebuah sudut stadion yang remang-remang.
“ Alex awas ya jangan macem2!!! kamu kan tau siapa Mbak”
Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yanglekas curiga dengan modus Alex yang sangat mencurigakan ini.
“ nggak deh Mbak, Alex toh tau Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya . Apalagi kalo dipenjara takut banget deh Mbak. Ini alex Cuma mau jujur saja…..”
“Jujur apa alex???cepet donk ngomongnya!!! Atau mbak panggi l temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!!!” ancamku
“ ampun Mbak jangan donk, Alex Cuma beliin ini kok buat Mbak.” Kata Alex sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.
“ ya ampun Alex kejutan apa ini??kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih”
“ dibuka donk Mbak kadonya” kata Alex

Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama. Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.

“ Alex inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak????”
“iya Mbak sejak pertemuan pertama Alex sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang alex sama mbak kok”
“ kamu baik banget Alex.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.
“ sini mbak Alex pakein kalungnya, Alex sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “
Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku. Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Alex mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.

Alex memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Alex mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang. Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Alex memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.

“ Mbak Risma aku cinta banget sama Mbak”
Kata Alex singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu. Dengan sabar Alex memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional. Alex sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana.

Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman. Dengan begitu mahir, Alex kemudia melepas pagutannya untuk kemudian berbisik ketelingaku. Kunjungi juga VideoXidn.tk

“Mbak percaya sama Aku ya, Alex mau bawa Mbak ke langit ketujuh”

Alex membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu katapun. Alex melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Alex langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens disekitarnya. Ciuman untuk merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk meudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendangak sambil berdiri, dengan seorang pria yang asyik mengoral leherku yang jenjang.

“aaaarrrgggghhhhhh”

Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku, sambil tanganku mengepal di balik bahu Alex berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan A lex mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi. Alex kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Alex tersenyum melihat wajahku sambil berucap

“Mbak semakin cantik saja kalo begini”

Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Alex memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.

“pegang besinya Mbak!”

Kata alex sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 cm diatasku. Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Alex secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya disekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra. Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.

“hggggggggggggh”

Aku tak tau apa yang terjadi tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai diubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Alex. Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Alex baru memainkan putingku dari luar. Alex memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku. Setelah badai nikmat itu reda. Alex memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai keatas dadaku.

“ jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Alex mau buat Mbak mabuk kenikmatan”.
Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan. Alex turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya
“ aroma Mbak membuatku tergila-gila”

katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari disana. Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku kelangit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang diatasku.

Sambil menjilat pusarku tangan Alex turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Alex menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Alex untuk berdiri berhadapan denganku.

“ jangan Alex Mbak malu”
“gak apa Mbak percaya sama Alex”
“sudah kamu disini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu”
“iya Mbak”

Alex kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumi ku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan cd merah yang menutupi bagian bawah tubuhku. Kembali kedua tangan Alex membuka sela-sela ketiakku dan membawanya keatas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia dibibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Ditengah pagutan itu tangan Alex tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitoris.

“ Youre shaved Mbak, betapa beruntungnya aku”
Itu bisiknya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah kemaluanku dari dalam cd merah. Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku keatas memandang langit.
“ kamu cantik Mbak Risma, kamu sexy sekali”
“………hgg……”
Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Alex yang masih di area intimku kujepeit tangan itu. Aku orgasme. Semua aliran darahdalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak disana. Oooooow nikmatnya. Begitu nikamatnya. Tangan Alex tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.
“ ayo Mbak Jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!!!!”
Bisik Alex kepadaku.
“hahhhh…………”
Begitu nikmatnya… pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.
Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Alex.
“ ( heh…..heh….hehhh……) A…Alex”
“Ya Mbak” jawab Alex sambil memeluk tubuhku
“nikmat balet Alex”
“bener Mbak?”
Aku mengangguk
“kenapa bisa senikmat ini batinku
“Alex akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya Alex”

Aku kembali mengangguk.

Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Alex. Tentu tidak ada olahraga hari itu. Lututku kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Alex setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.

Kunjungi juga VideoXidn.tk

Nikmatnya Dientot Dari Belakang Sampai Klimaks



Meli adalah salah seorang manager pada bagian Treasury di sebuah bank asing. Meli berumur 28 tahun, dia adalah seorang wanita Sunda yang berasal dari daerah Bogor. Meli telah bersuami dan mempunyai seorang anak yang baru berumur 7 tahun. Tubuh Meli dapat dikatakan kurus dengan tinggi badan kurang lebih 163 cm, dengan berat badannya kurang lebih 49 kg. Buah dadanya berukuran kecil tetapi padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis.

Setibanya di Semarang, setelah check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada beberapa nasabah, yang dilakukan sampai dengan setelah makan malam. Setelah selesai berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Ronal dan Anita melanjutkan acara mereka dengan duduk-duduk di bar hotel sambil mengobrol dan minum-minum. Meli pada awalnya diajak juga, tapi karena merasa sangat lelah, dan di samping itu ia juga merasa tidak enak mengganggu mereka, maka ia lebih dulu kembali ke kamar hotel untuk tidur.

Menjelang tengah malam, Meli tiba-tiba terbangun dari tidurnya, hal ini disebabkan karena ia merasa tempat tidurnya bergerak-gerak dan terdengar suara-suara aneh. Dengan perlahan-lahan Meli membuka matanya untuk mengintip apa yang terjadi. Hatinya terkesiap melihat Ronal dan Anita sedang bergumul. Keduanya berada dalam keadaan polos sama sekali. Anita yang bertubuh kecil itu, sedang berada di atas Ronal seperti layaknya seseorang yang sedang menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan cepat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,

“Ssshhh…, sshhh…”, karena mungkin takut membangunkan Meli. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Kedua tangan Ronal sedang meremas-remas kedua buah dada Anita yang kecil tetapi padat berisi itu. Meli sangat panik dan berada dalam posisi yang serba salah. Jadi dia hanya bisa terus berlagak seperti sedang tidur. Meli mengharapkan mereka cepat selesai dan Ronal segera kembali ke kamarnya. Besok dia akan menegur Anita agar tidak melakukan hal seperti itu lagi di kamar mereka. Seharusnya mereka dapat melakukan hal itu di kamar Ronal sehingga mereka dapat melakukannya dengan bebas tanpa terganggu oleh siapa pun. Dari bau whisky yang tercium, rupanya keduanya masih berada dalam keadaan mabuk. Meli berusaha keras untuk dapat tidur kembali, walaupun sebenarnya ia merasa sangat terganggu dengan gerakan dan suara-suara yang ditimbulkan oleh mereka.

Pada saat Meli mulai terlelap, tiba-tiba ia merasakan sesuatu sedang merayap pada bagian pahanya. Meli sangat terkejut dan tubuhnya mengejang, karena pada saat dia perhatikan, ternyata tangan kanan Ronal sedang mencoba untuk mengusap-ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Meli berpura-pura masih terlelap dan mencoba mengintip apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya permainan Ronal dan Anita sudah selesai dan Anita dalam keadaan kelelahan serta mengalami kepuasan yang baru dinikmatinya, sudah tergolek tidur.

Ronal yang masih berada dalam keadaan polos dengan posisi badan setengah tidur disamping Meli, sambil bertumpu pada siku-siku tangan kiri, tangan kanannya sedang berusaha menyingkap selimut yang dipakai Meli. Meli menjadi sangat panik, pada awalnya dia akan bangun dan menegur Ronal untuk menghentikan perbuatannya, akan tetapi di pihak lain dia merasa tidak enak karena pasti akan membuat Ronal malu, karena dipikirnya Ronal melakukan hal itu lebih disebabkan karena Ronal masih berada dalam keadaan mabuk. Akhirnya Meli memutuskan untuk tetap berpura-pura tidur dengan harapan Ronal akan menghentikan kegiatannya itu.

Akan tetapi harapannya itu ternyata sia-sia belaka, bahkan secara perlahan-lahan Ronal bangkit dan duduk di samping Meli. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Meli dengan perlahan-lahan dan dari mulutnya menggumam perlahan,

“sssttt sayang, mari kubantu menikmati sesuatu yang baru…, nih.., kubantu melepaskan celana dalammu…, nggak baik kalau tidur pakai celana dalam”, sambil tangannya yang tadinya mengelus-elus bagian atas paha Meli bergerak naik dan memegang tepi celana dalam Meli, kemudian menariknya dengan perlahan-lahan ke bawah meluncur di antara kedua kaki Meli.

Badan Meli menjadi kaku dan dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Meli seakan-akan berubah menjadi patung, pikirannya menjadi gelap dan matanya dirasakannya berkunang-kunang. Ronal melihat kedua gundukan bukit kecil dengan belahan sempit di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut hitam kecoklatan halus yang tidak terlalu lebat di antara paha atas Meli. Jari-jari Ronal membuka satu persatu kancing daster Meli, sambil tangannya bergerak terus ke atas dan sekarang ia menyingkapkan seluruh selimut yang menutupi tubuh Meli, sehingga terlihatlah payudara Meli yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil berwarna coklat tua.

Sekarang Meli tergolek dengan tubuhnya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang dan pantat yang penuh berisi, serta buah dada yang kecil padat dan belahan di antara paha atas yang membukit kecil, benar-benar sangat merangsang nafsu birahi Ronal. Ronal sudah tidak sanggup menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Anita, sekarang bangkit lagi, tegang dan siap tempur.

Sejak saat itu Ronal bertekad untuk tidak akan membebaskan Meli. Ia terlalu berharga untuk di biarkan, Ronal akan menikmati tubuh Meli berulang-ulang pada malam ini. Kemolekan tubuh Meli terlalu sayang untuk disimpan oleh Meli sendiri pikir Ronal. Ronal mendorong tubuh Meli dan mulai meremas-remas payudara Meli yang telah terbuka itu,

“Dengerin sayang, you akan saya ajarin menikmati sesuatu yang nikmat, asal you baik-baik nurutin apa yang akan saya tunjukkan”.

Kesadaran Meli mulai kembali secara perlahan-lahan dan dengan tubuh gemetar Meli perlahan-lahan membuka matanya dan memperhatikan Ronal yang sedang merangkak di atasnya. Meli mencoba mendorong badan Ronal sambil berkata,

“Ronal, apa yang sedang kau lakukan ini?”, “Sadarlah Ronal, aku khan sudah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Karena menganggap Ronal berada dalam keadaan mabuk, Meli mencoba membujuk dan menggugah kesadaran Ronal. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Akan tetapi Ronal yang telah sangat terangsang melihat tubuh Meli yang molek halus mulus dan bugil di depan matanya mana mau mengerti, apalagi penisnya telah dalam keadaan sangat tegang.

“Gila! Cakep banget! Lihat buah dadamu, padat banget. Cocok sama seleraku! You emang pinter menjaga tubuhmu, sayang!”, kata Ronal sambil menekan tubuhnya ke tubuh Meli.

Meli berusaha bangun berdiri, akan tetapi tidak bisa dan dia tidak berani terlalu bertindak kasar, karena takut Ronal akan membalas berlaku kasar padanya.

Sedangkan dalam posisinya itu saja ia sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk lari.

Sambil menjilat bibirnya Ronal berbaring di sisi Meli.

“Lin, lebih baik you mengikuti kemauanku dengan manis, kalau tidak saya akan maksa you dan saya perkosa you habis-habisan. Kalau you nurutin, you akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sakit”. Lalu tangannya ditangkupkan di buah dada Meli, sambil meremas-remasnya dengan sangat bernafsu, sambil merasakan kehalusan dan kepadatan buah dada Meli. “Bodi you oke banget!”, kata Ronal. “Coba you berputar Meli!”. Perlahan-lahan dengan perasaan yang putus asa Meli berputar membelakangi Ronal. Dan dirasakanya tangan Ronal sekarang ada di pantatnya meremas dan meraba-raba.

Kemudian Ronal menyibakkan rambut Meli, dan dihirupnya leher Meli dengan hidungnya sementara lidahnya menelusuri leher Meli. Sambil melakukan hal itu tangan Ronal berpindah menuju kemaluan Meli. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain-main, mengelus-elus dan menekan-nekan, sambil berkata,

“Kasihan you, Meli, pasti suami you tidak tahu cara membahagiakan you?”,
“Tapi tenang aja sayang, dengan saya, you nggak bakalan bisa lupa seumur hidup, you bakalan merasakan bagaimana menjadi wanita sejati!”. Sambil memutar kembali tubuh Meli.

Setelah itu Ronal mengambil tangan Meli dan meletakkannya di kemaluannya yang telah sangat tegang itu.

Ketika merasakan tangannya menyentuh benda hangat yang besar lagi keras itu, tubuh Meli tersentak, belum sempat Meli dapat berpikir dengan jelas, terasa badannya telah ditelentangkan oleh Ronal dan dengan cepat Ronal telah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Ronal. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Ronal lalu menempelkan ujung penisnya ke bibir vagina Meli,

“Apa you mau saya masukin itu?”,
“Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann…, Toomm…”, Meli dengan suara mengiba-iba masih berusaha mencoba menghalangi niat Ronal.

Meli mencoba mengeser pinggulnya ke samping, berusaha menghindari penis Ronal agar tidak dapat menerobos masuk ke dalam liang kewanitaannya.

Sambil tersenyum Ronal berkata lagi,

“You tidak dapat kemana-mana lagi, lebih baik you diam-diam saja dan menikmati permainan saya ini..!”. Ronal lalu memajukan pinggulnya dengan cepat dan menekan ke bawah, sehingga penis besarnya yang telah menempel pada bibir kemaluan Meli dengan cepat menerobos masuk ke dalam liang vagina Meli dengan tanpa dapat dihalangi lagi.


Testis Ronal mengayun-ayun menampar bagian bawah vagina Meli, sementara Meli megap-megap karena dorongan keras Ronal. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Meli belum pernah merasakan saat seperti ini, setiap bagian tubuhnya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang saat ditindih oleh dada Ronal. Dirinya sudah lupa kalau sedang diperkosa, ia tidak peduli pada tubuh besar Ronal yang sedang bergerak naik turun menindih tubuhnya yang langsing. Meli mulai merasakan suatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian bawah tubuhnya, vaginanya yang telah terisi oleh penis besar dan panjang milik Ronal, terasa menggelitik dan menyebar ke seluruh tubuhnya, sehingga Meli hanya bisa menggeliat-geliat dan mendesis mirip orang kepedasan.

Meli hanya berusaha menikmati seluruh rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya. Sekarang Meli mencoba untuk berusaha aktif dengan ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama gerakan Ronal di atasnya. Ronal melihat Meli mengerang, merintih dan mengejang setiap kali ia bergerak. Dan Meli sudah mulai terbiasa mengikuti gerakannya. Ronal merasakan tangan Meli merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus-elus ke bawah dan meremas-remas pantatnya serta menariknya ke depan agar semakin merapat pada tubuh Meli. Ronal terus menggosok-gosokkan penisnya pada klitoris Meli.

Ronal sekarang ingin membuat Meli orgasme terlebih dahulu. Meli semakin terangsang dan tak terkendali lagi setiap kali bagian tubuhnya bergerak mengikuti tekanan dan sodokan Ronal, sekarang wajahnya terbenam di dada bidang Ronal, mulutnya megap-megap seperti ikan terdampar di pasir, dengan perlahan-lahan mulutnya bergeser pada dada Bossnya dan sambil terus menjilat akhirnya tiba pada puting susu Ronal. Sekarang Meli secara refleks mulai menyedot dan menghisap puting susu Ronal, sehingga badan Ronal mulai bergetar juga saking merasa nikmatnya. Penis Ronal terasa semakin keras, sehingga Ronal semakin ganas saja menggerakkan pantatnya menekan pinggul Meli dalam-dalam. Meli merasakan vaginanya berkontraksi, sambil berusaha menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik seluruh dinding liang kemaluannya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Perasaan itu makin lama makin kuat menguasainya sehingga seakan-akan menutupi kesadarannya dan membawanya melayang-layang dalam kenikmatan yang tidak pernah dialaminya selama ini dan tidak dapat dilukiskan ataupun diuraikan dengan kata-kata. Kenikmatan yang dialami Meli tercermin pada gerakan tubuhnya yang meronta-ronta liar tanpa terkendali bagaikan ikan yang menggelepar-gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,

“Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”.

Kedua pahanya mMeligkari pantat Ronal dan dengan kuat menjepit serta menekan ke bawah, disertai tubuhnya yang mengejang dan kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, benar-benar suatu orgasme yang dahsyat telah melanda Meli. Ronal merasakan penisnya terjepit dengan kuat oleh dinding kemaluan Meli yang berdenyut-denyut disertai isapan kuat seakan-akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan dinding vagina Meli dan di ujung sana terasa ada “tembok” yang mengelus kepala penisnya.

Setelah beristirahat sejenak dan melihat Meli sudah agak tenang, Ronal mulai memompa lagi. Pompaan Ronal kali ini segera dibalas oleh Meli, pinggulnya bergerak-gerak “aneh” tapi efeknya luar biasa. Penis Ronal serasa dilumat dari pangkal sampai kepalanya. Lalu masih ditambah dengan variasi, ketika pinggul Meli berhenti dari gerakan aneh itu, tiba-tiba Ronal merasakan penisnya terjepit dengan kuat dan dinding-dinding kemaluan Meli berdenyut-denyut secara teratur, sekitar 4-5 kali denyut menjepit, baru kemudian bergoyang aneh lagi.

Wah, suatu sensasi melanda perasaan Ronal, suatu hubungan kelamin yang belum pernah dinikmatinya dengan wanita manapun juga selama ini. Menyesal Ronal karena tidak dari dulu-dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Meli makin bervariasi. Terkadang Ronal malah meminta Meli berhenti bergoyang untuk sekedar menarik nafas panjang. Lumatan dinding kemaluan Meli pada penis Ronal membuatnya geli-geli dan serasa akan ‘meledak’.

Ronal tidak ingin cepat-cepat sampai, karena masih ingin menikmati

“elusan” vagina Meli. Tetapi gerakan-gerakan di dalam liang kewanitaan Meli semakin menggila dan semakin liar. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Hingga akhirnya Ronal harus menyerah, tak mampu menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, semakin cepat Ronal bergerak mengimbangi goyangan pinggul Meli, semakin terasa pula rangsangan yang akan meletupkan lahar panas yang sedang menuju klimaks, mendaki puncak, saat-saat yang paling nikmat. Dan akhirnya, pada tusukan yang terdalam, Ronal menyemprotkan maninya kuat-kuat di dalam liang kewanitaan Meli, sambil mengejang, melayang, bergetar. Pada detik-detik saat Ronal melayang tadi, tiba-tiba kaki Meli yang pada awalnya mengangkang, diangkatnya dan menjepit pinggul Ronal kuat-kuat. Amat sangat kuat.

Lalu tubuhnya ikut mengejang beberapa detik, mengendor dan terus mengejang lagi, lagi dan lagi…, Meli pun tidak sanggup menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak-beliak, serta keseluruhan tubuhnya bergetar dengan hebat tanpa terkendali, seiring dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Meli.

“Toommm, aduuuh, Toomm, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Toomm….!”.

Ronal tersenyum puas melihat tubuh Meli terguncang-guncang karena orgasme selama 15 detik tanpa henti-hentinya. Kemudian tangan Meli dengan eratnya menekan pantat Ronal ke arah selangkangannya sambil kakinya menggelepar-gelepar ke kiri kanan. Ronal pun terus menggerakkan penisnya untuk menggosok klitoris Meli. Setelah orgasmenya selesai, tubuh Meli langsung terkulai lemas tak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan dan kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Meli merasa bagian-bagian tubuhnya seolah terlepas dan badannya tidak dapat digerakkan sama sekali.

Setelah gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Meli kembali ke alam nyata dan menyadari bahwa dia sedang terkapar di bawah tindihan badan kekar lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja memberikan kepuasan yang tiada tara padanya. Suatu perasaan malu dan menyesal melandanya, bagaimana dia bisa begitu gampang ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar dan Meli mulai menangis tersedu-sedu. Dengan tubuhnya yang masih menghimpit badan Meli, Ronal mencoba membujuknya dengan memberikan berbagai alasan antara lain karena ia terlalu banyak minum sehingga tidak dapat mengontrol dirinya.

Sambil membujuk dan mengelus-elus rambut Meli dengan perlahan-lahan penisnya mulai tegang lagi dan dengan halus penisnya yang memang telah berada tepat di depan kemaluan Elis ditekan perlahan-lahan agar masuk ke dalam kewanitaan Meli. Pada saat merasakan penis Ronal mulai menerobos masuk ke dalam kewanitaannya, Meli bereaksi sedikit dengan mencoba memberontak lemah tapi akhirnya diam pasrah dan membiarkan penis besar tersebut masuk sepenuhnya ke dalam liang kewanitaannya.

Dengan perlahan-lahan Ronal menggerakkan badannya naik-turun, sehingga lama-kelamaan tubuh Meli mulai terangsang kembali dan bereaksi, dan pergumulan kedua insan tersebut semakin lama semakin seru mendaki puncak kepuasan dan kenikmatan, terlupa akan segala penyesalan. Pertarungan mereka terus berlanjut sepanjang malam dan baru berhenti menjelang fajar menyingsing keesokan harinya.

Pukul 10 pagi keduanya baru terbangun dan terlihat Anita telah berpakaian rapi, sedang menikmati sarapan paginya sambil mengerling ke arah mereka dengan senyum-senyum rahasia. Pada mulanya Meli merasa sangat malu terhadap Anita, tapi melihat reaksi Anita yang seperti itu, seakan-akan mengajak bersekutu, akhirnya Meli menjadi terbiasa.

Kunjungi juga VideoXidn.tk

Cerita Asyik Bercinta Dengan Pacar Kakakku



Siang itu aku sendirian. Papa, Mama dan Mbak Dina mendadak ke Jakarta karena nenek sakit. Aku nggak bisa ikut karena ada kegiatan sekolah yang nggak bisa aku tinggalin. Dari pada bengong sendirian aku iseng bersih-bersih rumah. Pas aku lagi bersihin kamar Mbak Dina aku nemu sekeping VCD. Ketika aku merhatiin sampulnya.. astaga!! ternyata gambarnya sepasang bule yang sedang berhubungan sex. Badanku gemetar, jantungku berdegup kencang.

Pikiranku menerawang saat kira-kira 1 bulan yang lalu aku tanpa sengaja mengintip Mbak Dina dengan pacarnya ML berbuat seperti yang ada di sampul VCD tersebut. Sejak itu aku sering bermasturbasi membayangkan sedang bersetubuh. Tadinya aku bermaksud mengembalikan VCD bokep tersebut ke tempatnya, tapi aah.. mumpung sendirian aku memutuskan untuk menonton film tersebut. Jujur aja aku baru sekali ini nonton blue film.

Begitu aku nyalain di layar TV terpampang sepasang bule yang sedang saling mencumbu. Pertama mereka saling berciuman, kemudian satu persatu pakaian yang melekat mereka lepas. Si cowok mulai menciumi leher ceweknya, kemudian turun ke payudara. Si cewek tampak menggeliat menahan nafsu yang membara. Sesaat kemudian si cowok mejilati vaginanya terutama di bagian klitorisnya. Si cewek merintih-rintih keenakan. Selanjutnya gantian si cewek yang mengulum penis si cowok yang sudah ereksi. Setelah beberapa saat sepertinya mereka tak tahan lagi, lalu si cowok memasukkan penisnya ke vagina cewek bule tadi dan langsung disodok-sodokin dengan gencar. Sejurus kemudian mereka berdua orgasme. Si cowok langsung mencabut rudalnya dari vagina kemudian mengocoknya di depan wajah ceweknya sampai keluar spermanya yang banyak banget, si cewek tampak menyambutnya dengan penuh gairah.

Aku sendiri selama menonton tanpa sadar bajuku sudah nggak karuan. Kaos aku angkat sampai diatas tetek, kemudian braku yang kebetulan pengaitnya di depan aku lepas. Kuelus-elus sendiri tetekku sambil sesekali kuremas, uhh.. enak banget. Apalagi kalo kena putingnya woww!!
Celana pendekku aku pelorotin sampe dengkul, lalu tanganku masuk ke balik celana dalam dan langsung menggosok-gosok klitorisku. Sensasinya luar biasa!!
Makin lama aku semakin gencar melakukan masturbasi, rintihanku semakin keras. Tanganku semakin cepat menggosok klitoris sementara yang satunya sibuk emremas-remas toketku sendiri. Dan,
“Oohh.. oohh..”
Aku mencapai orgasme yang luar biasa. Aku tergeletak lemas di karpet. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Tentu saja aku gelagapan benerin pakaianku yang terbuka disana-sini. Abis itu aku matiin VCD player tanpa ngeluarin discnya.
“Gawat!” pikirku.
“Siapa ya? Jangan-jangan pa-ma! Ngapain mereka balik lagi?”.
Buru-buru aku buka pintu, ternyata di depan pintu berdiri seorang cowok keren. Rupanya Mas Feri pacar Mbak Dina dari Bandung.
“Halo Ulfa sayang, Mbak Dinanya ada?”
“Wah baru tadi pagi ke Jakarta. Emang nggak telpon Mas Feri dulu?”
“Waduh nggak tuh. Gimana nih mo ngasi surprise malah kaget sendiri.”
“Telpon aja HP-nya Mas, kali aja mau balik” usulku sekenanya.
Padahal aku berharap sebaliknya, soalnya terus terang aku diem-diem aku juga naksir Mas Feri. Mas Feri menyetujui usulku. Ternyata Mbak Dina cuman ngomong supaya nginep dulu, besok baru balik ke Bandung, sekalian ketemu disana. Hura! Hatiku bersorak, berarti ada kesempatan nih.

Aku mempersilakan Mas Feri mferi. Setelah mferi kami makan malam bareng. Aku perhatiin tampang dan bodi Mas Feri yang keren, kubayangkan Mas Feri sedang telanjang sambil memperlihatkan “tongkat kastinya”. Nggak sulit untuk ngebayangin karena aku kan pernah ngintip Mas Feri ama Mbak Dina lagi ml. Rasanya aku pengen banget ngerasain penis masuk ke vaginaku, abis keliatannya enak banget tuh.
“Ada apa Ulfa, Kok ngelamun, mikirin pacar ya?” tanyanya tiba-tiba.
“Ah, enggak Mas, Ulfa bobo dulu ya ngantuk nih!” ujarku salting.
“Mas Feri nonton TV aja nggak papa kan?”
“Nggak papa kok, kalo ngantuk tidur aja duluan!”

Aku beranjak masuk kamar. Setelah menutup kintu kamar aku bercermin. Bajuku juga kulepas semua. Wajahku cantik manis, kulitku sawo matang tapi bersih dan mulus. Tinggi 165 cm. Badanku sintal dan kencang karena aku rajin senam dan berenang, apalagi ditunjang toketku yang 36B membuatku tampak sexy. Jembutku tumbuh lebat menghiasi vaginaku yang indah. Aku tersenyum sendiri kemudian memakai kaos yang longgar dan tipis sehingga meninjolkan kedua puting susuku, bahkan jembutku tampak menerawang. Aku merebahkan diriku di atas kasur dan mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa aku susah sekali tidur. Sampai kemudian aku mendengar suara rintihan dari ruang tengah. Aneh! Suara siapa malam-malam begini? Astaga! Aku baru inget, itu pasti suara dari VCD porno yang lupa aku keluarin tadi, apa Mas Feri menyetelnya? Penasaran, akupun bangkit kemudian perlahan-lahan keluar.

Sesampainya di ruang tengah, deg!! Aku melihat pemandangan yang mendebarkan, Mas Feri di depan TV sedang menonton bokep sambil ngeluarin penisnya dan mengelusnya sendiri. Wah.. batangnya tampak kekar banget. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Aku berpura-pura batuk kemudian dengan tampang seolah-olah mengantuk aku mendekati Mas Feri. Mas Feri tampak kaget mendengar batukku lalu cepat-cepat memasukkan penisnya ke dalam kolornya lagi, tapi kolornya nggak bisa menyembunyikan tonjolan tongkatnya itu.
“Eh, Ulfa anu, eh belum tidur ya?”
Mas Feri tampak salting, kemudian dia hendak mematikan VCD player.”
Iya nih Mas, gerah eh nggak usah dimatiin, nonton berdua aja yuk!” ujarku sambil menggeliat sehingga menonjolkan pepaya bangkokku.
“Oh iya deh.”
Kamipun lalu duduk di karpet sambil menonton. Aku mengambil posisi bersila sehingga bawukku mengintip keluar dengan indahnya.

“Mas, gimana sih rasanya bersetubuh?” tanyaku tiba-tiba.
“Eh kok tau-tau nanya gitu sih?”
Mas Feri agak kaget mendengar pertanyaanku, soalnya saat itu matanya asyik mencuri pandang ke arah selakanganku. Aku semakin memanaskan aksiku, sengaja kakiku kubuka lebih lebar sehingga vaginaku semakin terlihat jelas.
“Alaa nggak usah gitu! Aku kan pernah ngintip Mas sama Mbak Dina lagi gituan.. nggak papa kok, rahasia terjaga!”
“Oya? He he he yaa.. enak sih.”
Mas Feri tersipu mendengar ledekanku.
Akupun melanjutkan, “Mas, vaginaku sama punya Mbak Dina lebih indah mana?” tanyaku sambil mengangkat kaosku dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar so bawukkupun terpampang jelas.
“Ehh glek bagusan punyamu.”
“Terus kalo toketnya montokan mana?” kali ini aku mencopot kaosku sehingga payudara dan tubuhku yang montok itu telanjang tanpa sehelai benang yang menutupi.
“Aaanu.. lebih montok dan kencengan tetekmu!”
Mas Feri tampak melotot menyaksikan bodiku yang sexy. Hal itu malah membuat aku semakin terangsang.

“Sekarang giliran aku liat punya Mas Feri!”
Karena sudah sangat bernafsu aku menerkam Mas Feri. Kucopoti seluruh pakaiannya sehingga dia bugil. Aku terpesona melihat tubuh bugil Mas Feri dari dekat. Badannya agak langsing tapi sexy. penisnya sudah mengacung tegar membuat jantungku berdebar cepat. Entah kenapa, kalo dulu ngebayangin bentuk burung cowok aja rasanya jijik tapi ternyata sekarang malah membuat darahku berdesir.
“Wah gede banget! Aku isep ya Mas!”
Tanpa menunggu persetujuannya aku langsung mengocok, menjilat dan mengulum batang kemaluannya yang gede dan panjang itu seperti yang aku tonton di BF.
“Slurp Slurp Slurpmmh! Slurp Slurp Slurp mmh.”
Ternyata nikmat sekali mengisap penis. Aku jepit penisnya dengan kedua susuku kemudian aku gosok-gosokin, hmm nikmat banget! Mas Feri akhirnya tak kuat menahan nafsu. Didorongnya tubuh sintalku hingga terlentang lalu diterkamnya aku dengan ciuman-ciuman ganasnya. Tangannya tidak tinggal diam ikut bekerja meremas-remas kelapa gadingku.

“Ahh mmh.. yesh uuh.. enak mas”
Aku benar-benar merasakan sensasi luar biasa. Sesaat kemudian mulutnya menjilati kedua putingku sambil sesekali diisap dengan kuat.
“Auwh geli nikmat aah ouw!”
Aku menggelinjang kegelian tapi tanganku justru menekan-nekan kepalanya agar lebih kuat lagi mengisap pentilku. Sejurus kemudian lidahnya turun ke vaginaku. Tangannya menyibakkan jembutku yang rimbun itu lalu membuka vaginaku lebar-lebar sehingga klitorisku menonjol keluar kemudian dijilatinya dengan rakus sambil sesekali menggigit kecil atau dihisap dengan kuat.
“Yesh.. uuhh.. enak mas.. terus!” jeritku.
“Slurp Slurp, vaginamu gurih banget Ulfa mmh”.
Mas Feri terus menjilati vaginaku sampai akhirnya aku nggak tahan lagi.
“Mas.. ayo.. masukin penismu.. aku nggak tahan..”

Mas Feri lalu mengambil posisi 1/2 duduk, diacungkannya penisnya dengan gagah ke arah lubang vaginaku. Aku mengangkangkan kakiku lebar-lebar siap menerima serangan rudalnya. Pelan-pelan dimasukkannya batang rudal itu ke dalam vaginaku.
“Aauw sakit Mas pelan-pelan akh..”
Walaupun sudah basah, tapi vaginaku masih sangat sempit karena aku masih perawan.
“Au.. sakit”
Mas Feri tampak merem menahan nikmat, tentu saja dibferingkan Mbak Dina tempikku jauh lebih menggigit. Lalu dengan satu sentakan kuat sang rudal berhasil menancapkan diri di lubang kenikmatanku sampai menyentuh dasarnya.
“Au.. sakit..”
Aku melonjakkan pantatku karena kesakitan. Kurasakan darah hangat mengalir di pahaku, persetan! Sudah kepalang tanggung, aku ingin ngerasain nikmatnya bercinta. Sesaat kemudian Mas Feri memompa pantatnya maju mundur.
“Jrebb! Jrebb! Jrubb! Crubb!”
“Aakh! Aakh! Auw!”
Aku menjerit-jerit kesakitan, tapi lama-lama rasa perih itu berubah menjadi nikmat yang luar biasa. vaginaku serasa dibongkar oleh tongkat kasti yang kekar itu.
“Ooh.. lebih keras, lebih cepat”
Jerit kesakitanku berubah menjadi jerit kenikmatan. Keringat kami bercucuran menambah semangat gelora birahi kami.

Tapi Mas Feri malah mencabut penisnya dan tersenyum padaku. Aku jadi nggak sabar lalu bangkit dan mendorongnya hingga telentang. Kakiku kukangkangkan tepat di atas penisnya, dengan birahi yang memuncak kutancapkan batang bazooka itu ke dalam bawukku,
“Jrebb.. Ooh..” aku menjerit keenakan, lalu dengan semangat 45 aku menaik turunkan pantatku sambil sesekali aku goyangkan pinggulku.
“Ouwh.. enak banget tempikmu nggigit banget sayang.. penisku serasa diperas”
“Uggh.. yes.. uuh.. auwww.. penismu juga hebaat, bawukku serasa dibor”
Aku menghujamkan pantatku berkali-kali dengan irama sangat cepat. Aku merasa semakin melayang. Bagaikan kesetanan aku menjerit-jerit seperti kesurupan. Akhirnya setelah setengah jam kami bergumul, aku merasa seluruh sel tubuhku berkumpul menjadi satu dan dan
“Aah mau orgasme Mas..”
Aku memeluk erat-erat tubuh atletisnya sampai Mas Feri merasa sesak karena desakan susuku yang montok itu.
“Kamu sudah sayang? OK sekarang giliran aku!”

Aku mencabut vaginaku lalu Mas Feri duduk di sofa sambil mememerkan ‘tiang listriknya’. Aku bersimpuh dihadapannya dengan lututku sebagai tumpuan. Kuraih penis besar itu, kukocok dengan lembut. Kujilati dengan sangat telaten. Makin lama makin cepat sambil sesekali aku isap dengan kuat. Kunjungi juga VideoXidn.tk

“Crupp.. slurp.. mmh..”
“Oh yes.. kocok yang kuat sayang!”
Mas Feri mengerang-erang keenakan, tangannya meremas-remas rambutku dan kedua bola basket yang menggantung di dadaku. Aku semakin bernafsu mengulum. Menjilati dan mengocok penisnya.
“Crupp crupp slurp!”
“Ooh yes.. terus sayang yes.. aku hampir keluar sayang!”
Aku semakin bersemangat ngerjain penis big size itu. Makin lama makin cepat, lalu..
“Croot.. croot..”
Penisnya menyemburkan sperma banyak sekali sehingga membasahi rambut wajah, tetek dan hampir seluruh tubuhku. Aku usap dan aku jilati semua maninya sampai licin tak tersisa, lalu aku isap penisnya dengan kuat supaya sisa maninya dapat kurasakan dan kutelan.

Akhirnya kami berdua tergeletak lemas diatas karpet dengan tubuh bugil bersimbah keringat. Malam itu kami mengulanginya hingga 4 kali dan kemudian tidur berpelukan dengan tubuh telanjang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan.

Kunjungi juga VideoXidn.tk

Ketagihan Bercinta Dengan Om ku Yang Ganteng



Sebelum aku menceritakan kisahku ini, perkenalkan dulu namaku Destri. menurut teman-teman aku mempunyai wajah cantik, alis mata tipis dengan mata indah dan jernih yang dilindungi oleh bulu lentik, hidung tergolong mancung dan bagus, bibir tipis, mungil merah alami serasi dengan bentuk wajah. Kulit kuning langsat mulus dan terawat. Sejak dua bulan yang lalu, aku tinggal bersama keluarga Om Jaka yang masih saudara sepupu Mama, karena orang tuaku pindah tugas ke luar negeri untuk jangka 2 tahun.

Usia aku saat ini 16 tahun, aku mempunyai tinggi 157 cm, dengan berat sekitar 40 kg, yah kadang sifatku memang kekanakan. Om Jaka dan istrinya Tante Tina punya seorang anak laki-laki, Didit yang berusia 4 tahun. Mereka tidak punya pembantu, setiap hari anaknya dibawa dan di titipkan pada kelompok bermain yang terletak di dekat tempat kerja Tante Tina. Tante Tina sendiri adalah seorang wanita yang manis dan tampak lesung pipitnya ketika tersenyum, badannya masih langsing walaupun sudah punya anak. Sedangkan Om Jaka berumur kira-kira 35 tahun, berkulit coklat dan ganteng, sangat menyayangi keluarganya. Meraka adalah keluarga yang harmonis. Aku merasa betah tinggal di rumah mereka, karena telah di anggap sebagai keluarga sendiri.

Om Jaka mempunyai sebuah rumah mungil dengan tiga buah kamar, Aku menempati kamar paling depan dan menghadap ke jalan, suasananya nikmat. Om Jaka dan istrinya menempati ruang tengah yang mempunyai kamar mandi sendiri, ada juga sebuah pintu yang menghubungkan ke kamar belakang di mana Didit biasa tidur. Ruang tamu dan ruang keluarganya cukup besar. Aku biasa menggunakan kamar mandi yang terletak di belakang dekat dapur. Bila hari libur mereka jalan-jalan dan rekreasi bersama, Aku selalu diajak, suasananya menjadi semakin menyenangkan.

Suatu malam, tidak sengaja aku terbangun mendengar suara rintihan dan dengusan nafas yang memburu dari kamar sebelah, suara itu makin lama makin keras. Aku melihat ke arah lubang angin di atas meja belajar, lampu di kamar sebelah masih kelihatan terang. Hatiku diliputi rasa penasaran, pelan-pelan aku bangun dan mematikan lampu kamar, dengan hati-hati mengendap naik di atas meja belajar, aku agak membungkuk untuk bisa melihat ke kamar sebelah melalui lubang yang cukup besar. Aku kaget melihat adegan yang terjadi di kamar sebelah, sampai hampir jatuh, tapi untung cepat sadar. Aku melihat Om Jaka sedang bergumul dengan istrinya tanpa mengenakan selembar pakaian. Semula aku ingin mengurungkan niat untuk melihat perbuatan mereka, karena rasa ingin tahuku besar dan merasa penasaran, aku kembali mengintip mereka.

Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi aku mulai tertegun saat Om Jaka bertumpu dengan lututnya yang kebetulan menghadap ke arahku, aku semakin tegang dan terbelalak melihat titit Om Jaka berdiri tegang dan besar di antara kedua pahanya, sebelumnya aku tidak pernah melihatnya, sangat berbeda dengan kepunyaan Didit yang masih kecil, tengkukku mulai merinding, badanku terasa panas, tapi mataku masih terus menatapnya.

Om Jaka mulai berada di atas badan Tante Tina dengan burung yang masih tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan sikunya bibir mereka saling melumat, mencium, dan kadang menjelajahi seluruh tubuh. ” Kak.., ahh.., terus ssts.., ahh.., Uhh”, Tante Tina merintih-rintih seperti kenikmatan. Aku semakin tegang dan mulai panas dingin melihatnya, “Kak.., ahh, terus ssts.., ahh.., uhh.., aah”.

Aku yang melihat adegen itu, tanpa sadar mulai memegang dan mengelus elus tetekku sendiri, merasa nikmat, tapi tidak berani bersuara. vaginaku terasa membasah, aku baru sadar kalau berahiku mulai bangkit. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Tante Tina membimbing burung itu ke vaginanya, dan terlihat masuk, “Uhh.., aahh”, tapi Jaka malah memainkan ujung burungnya keluar masuk lubang vaginanya, “Ooohh Kak masukkan, aahh”, terdengar rintih kenikmatan, “Aduuhh.., aahh”, tangannya mencengkeram bahu Om Jaka. Kemudian burungnya masuk lagi, “Ahh.., Ohh”, dan Tante Tina mulai menggelinjang dan mengimbangi gerakannya sambil mendekap pinggangnya, ” Mas.., ahh, terus Mas.., ahh.., Uhh”, burungnya terus menghunjam semakin dalam. Ditarik lagi, “Aahh” dan masuk lagi, “Mas.., ahh, terus Mas.., ahh.., Uhh”. vaginaku sendiri makin basah dan terasa geli. Sampai suatu badannya bergeter getar dan mengejang, dan “Aahh.., oohh.., aahh” Tante Tina terkulai dengan senyumnya, di susul dengan lenguhan panjang Om Jaka. Kemudian mereka rebah telentang kecapaian.

Melihat adegen itu kepalaku berdenyut, aku berusaha turun pelan-pelan dari atas meja. Semalaman aku tidak bisa tidur membayangkan adegan yang baru kulihat. Aku bayangkan sedang bergumul dengan Om Jaka yang mencumbu dan memberikan kenikmatan. Menjelang pagi aku baru bisa tidur karena kelelahan.

Hari-hari berikutnya bila sedang melamun aku selalu membayangkan sosok Om Jaka yang atletis itu mencumbuku, kadang aku membandingkan dengan teman-teman laki-lakiku, tapi tak ada satupun sosok temanku yang mampu menggantikan sosok Om Jaka. Beberapa malam aku selalu menantikan suara-suara dari kamar sebelah, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat adegan yang sedang berlangsung, seperti ketagihan fantasiku melayang membayangkan diriku yang melakukan hal itu.

Aku mulai sering mencuri pandang untuk menatap dan menelusuri tubuh Om Jaka dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tidak berani memperlihatkannya secara langsung, karena takut Tante Tina mengetahui perbuatanku. Aku sangat penasaran terhadap benda yang selalu menonjol di balik celana laki-laki itu, rasanya benar-benar ingin melihatnya dari dekat, bukan samar-samar seperti saat mengintip. Hubungan mereka masih terasa harmonis seperti biasanya.

Pagi itu hari Minggu tanggal 16 Juli 2000, Om Jaka mengantarkan istri dan anaknya ke Bandara, mengejar penerbangan pertama ke Surabaya, untuk menjenguk ayah Tante Tina yang sedang sakit, sesuai rencana yang mereka bicarakan sejak beberapa hari yang lalu. Tante Tina tidak akan lama di Surabaya, esok harinya sudah kembali ke Jakarta.

Aku bangun agak siang hari itu, malas bangun karena sendirian di rumah. Dengan mata yang masih mengantuk aku mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi, mumpung rumah sepi aku ingin melulur tubuhku. Setelah menggantungkan handuk, aku mulai membuka baju tidur melalui kepala, selintas terlihat tetekku menonjol kencang di atas dada yang tidak tertutup Bra. Sejenak aku melihat ke arah tonjolan itu. Aku merasa bangga mempunyai buah dada yang indah, putingnya masih kecil dan berwarna coklat kemerahan, selenak aku melamun, alangkah senangnya seandainya Om Jaka mengelus kagum tetekku, kemudian kutarik celana dalam putih itu perlahan melalui pahaku yang mulus dan betis yang indah. Saat berdiri terlihat bulu-bulu lembut kemerahan tumbuh menghiasi perut bagian bawah, bulu-bulu itu belum begitu lebat, karena masih ada bulu-bulu kecil yang sedang tumbuh.

Rambutku yang berpotongan pendek itu kututup dengan plastik penutup kepala, baru dikeramas kemarin sore, takut basah. Terasa segar saat air yang sejuk itu mengguyur badanku berkali-kali, aku kemudian mulai menggosok sekujur tubuh dengan perlahan sehingga yakin benar-benar bersih. Kukagumi sendiri lekuk-lekuk tubuh yang indah itu, aku bangga dengan bentuk tubuh yang kumiliki, sambil terus melulur, kadang membayangkannya tangan Om Jaka menelusuri tubuhku.

Selesai lulur aku membilasnya dengan sabun mandi yang beraroma wangi, sampai tubuhku menjadi begitu halus dan wangi. Saat akan selesai aku mendengar bunyi telepon berdering, buru-buru kubasuh badan hingga bersih. Telepon terus berdering, Aku buru-buru menarik handuk, sampai baju tidurku jatuh dan basah, setelah melilitkan handuk seadanya ke tubuhku yang masih basah, aku keluar dari kamar mandi, tidak ada orang pikirku. Aku akan menuju telepon di ruang tamu, tapi baru ingat kalau hanya mengenakan handuk, malu bila saat mengangkat telepon ada orang yang melihat dari arah jalan, maka aku buru-buru masuk ke kamar Om Jaka, pintu kamar kubuka dan terlihat kamar itu kosong, aku masuk, menutup dan mengunci pintu itu sendiri, lalu menuju ke arah telepon di samping ranjang.

“Hallo!”, aku membungkuk sehingga tak terasa pantatku tersingkap, mencoba menjawab telepon itu, tapi keburu terputus. Kututup lagi telepon itu. Pantatku kembali terlihat. ” Ahh!”, aku tekejut saat membalikkan badan, tak disangka Om Jaka sudah pulang dan berdiri di belakangku hanya menggunakan celana dalam keluar dari kamar mandi yang ada dalam kamarnya, badanku sampai gemetar karena kagetnya, sekaligus terpesona melihat tubuh Om Jaka yang bagus, dada bidang itu seolah-olah seperti magnit yang menarik diriku, membuatku hanya berdiri mematung, aku tak kuasa melihat tatapan Om Jaka, aku menunduk, tapi aku semakin terkejut saat melihat benda di balik celana itu bergerak makin besar, entahlah aku menjadi terpesona dan diam saja saat Om Jaka menghampiriku. Selain kaget, malu dan terpesona, ada terselip keinginan untuk mengetahui sampai di mana keberanian laki-laki ini. Tapi “..ahh” gila pikirku, karena jantungku terasa berdenyut kencang, hingga tak sadar aku malah menutup mata.

Tiba-tiba kurasakan tangan Jaka mengelus pundak dengan lembut, sejenak anganku melayang terbayang adegen yang pernah kulihat. Dengusan udara hangat menerpa wajahku. Darah mudaku malah terasa meletup-letup, seakan aku tak kuasa menolak dan diam saja saat daguku diangkat, hembusan nafas hangatnya mulai menerpa wajahku, degup jantungku semakin kencang, membuatku tak berdaya saat bibirku merasakan hangatnya bibir Om Jaka yang lembut dan tubuhku semakin menggigil saat hidungku mencium bau parfum yang dikenakan Om Jaka. “Ohh” aku ingin meronta, tapi hanya desahanku saja yang keluar, perasaanku tak karuan “..oohh”. Kunjungi juga VideoXidn.tk

Aku hanya bisa terdiam saja, dia terus mengulum bibirku, membuat sedotan-sedotan kecil, dan menggelitik ujung bibir mungilku dengan hangat. Diperlakukan seperti itu aku semakin menggigil dan hanya mampu mendesah desah, “Ahh.., Oohh.., Jangan nakal Mas”, pintaku. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Tapi lama kelamaan ciumannya terasa hangat dan menimbulkan rasa geli yang nikmat, sehingga akhirnya aku membalas dan mengimbang ciumannya sekali sekali. Perasaanku melayang ringan dan nyaman. Om Jaka makin berani menyusupkan tangannya ke pantatku yang tidak terlidung itu, “aahh!”, aku kaget sejenak dan berusaha menghalangi tangannya, tapi aku ternyata hanya sanggup memegangnya saja, ada perasaan tidak rela untuk mengakhiri perasaan nikmat ini. Makin lama elusan-elusan lembut dipantatku itu menimbulkan perasaan nikmat yang lain.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk membalas lumatan-lumatannya, detak jantungku semakin bertalu-talu dan badanku semakin bergetar, rasa maluku memudar, sambil merintih rintih, “Ooom.., ahh.., ahh.., Uhh”, vaginaku mulai terasa basah dan terasa geli tapi nikmat, “Ohh..” Tangan Om Jaka yang satu lagi mulai menyusup di antara ketiakku, mau tak mau kedua tanganku menjadi terangkat, “Ahh.., Omm.., ahh.., uuhh”, akal sehatku entah melayang ke mana, kini tangan Om Jaka lebih bebas menelusuri tubuhku, tangan kiri menopang punggung, tangan kanannya terus mengelus bagian-bagian yang sensitif di pantat, ini membuat perasaanku makin melambung, “Ssst.., ahh”. Kemudian tangannya bergerak naik, hingga handuknya makin terangkat ke atas, badanku serasa lemas tak berdaya, ketika kaki kiri Om Jaka dinaikkan dan mendudukkanku di atas tempat tidur.

Kakinya terasa hangat di punggung, dia tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk berfikir sehat, Sambil terus melumat bibir, ujung jari tangan kanannya beralih mengelus pahaku naik pelan ke arah pangkal paha, kepalang tanggung tubuh bagian bawahku tidak tertutup apa-apa, membuat dada ini makin berdegup dan serasa darahku mendesir, membuatku kembali merintih-rintih nikmat, “Ahh.., ahh.., uhh”, sebelum mencapai pangkal paha jarinya bergerak turun lagi, karena geli aku kembali merintih. Tanpa menyentuh vaginaku yang mulai basah karena birahiku mulai bangkit, tangan kanan Om Jaka terus naik dan meremas-remas lembut tetekku yang masih tertutup handuk, “Ahh.., Omm.., ahh.., Uhh”, aku semakin merintih rintih nikmat, perlahan tangan Jaka mulai membuka handuk dari atas dadaku dan tanpa malu lagi kubiarkan hingga terbuka, tetekku menyembul diantara handuk yang tersingkap tanpa ada perlawanan sedikitpun.

Kurasakan udara hangat di telinga, “Kamu benar-benar gadis yang cantik, dan telah tumbuh dewasa Des, tubuhmu begitu indah”, gumamnya lirih, membuat tubuhku makin bergetar dan nafasnya sesak menahan gejolak di dada mendengar pujian itu, kemudian Om Jaka menarik kakinya dan merebahkanku di tempat tidur, Akupun mulai merasa sayang untuk menolak, “..ahh”, aku mendesah kecil tanpa disadari. Om Jaka kelihatannya tahu gejolak birahiku semakin membara. Tangannya mengusap lembut dari telinga turun ke leher, mengusap lembut buah dadanya yang terbuka dan sebaliknya beberapa kali. Aku merasa terbuai seakan anganku melambung, aku kembali pasrah saja saat Om Jaka mengulum bibir dengan lembut dan hangat, ada perasaan di hati untuk terus menikmati belaian belaian lembut itu. “Ja.. jangan Om.., ahh”, kedua tanganku serasa lumpuh dan tidak berusaha menahan tangan Om Jaka yang kemudian merenggut handuk itu serta melemparnya ke sisi ranjang, sekilas kulihat mata Om Jaka menyapu ke seluruh tubuh bugilku. Aku menggelinjang-gelinjang geli dan nikmat saat jemari itu menari dan mengusap lembut di atas buah dadaku yang mulai berkembang lembut dan putih, seraya terus berpagutan, perasaan nikmat, geli dan anganku melambung kembali saat jemari itu mempermainkan puting susu yang masih kecil dan kemerahan itu. “Omm.., aahh.., uuhh.., ahh”, birahiku makin memuncak, “..ngghh..”, vaginaku semakin basah.

Tanpa sadar kepalanya makin kudekap. Perasaannya melambung kembali ketika dirasakan buah dadaku kembali di cium, dijilati dan diisap lembut. “Uuuhh” sehingga dia makin mendekap kepala Om Jaka, vaginaku makin basah, dan membuatnya semakin memuncak. “Om.., ahh, terus.., ahh.., sst.., Uhh”, Aku terus merintih rintih nikmat, semetara Om Jaka terus memainkan buah dadaku. “Omm.., Aahh”, Om Jaka tidak mempedulikan rintihanku, bahkan mulai membuka celana dalamnya sendiri. Aku melihat sesuatu menonjol keluar, aku kaget, malu, tapi ingin tahu, “..aahh”. Aku makin terpana ketika melihat tubuh bugilnya. Burung itu berdiri dengan tegak dan gagah dan panjang, bentuknya sungguh menawan dengan ujung bulat dan bersih. Melihat burung itu dadaku bagai diketuk-ketuk dengan palu. Aku mulai merapatkan kaki, ada perasaan risih sesaat kemudian hilang berganti dengan nafsu yang kembali melambung. “Ahh..”, dia diam saja saat dia kembali mengulum bibir dan nafasku seperti sesak menahan gejolak birahi, saat tanganku dibimbing ke bawah, di antara pangkal paha laki-laki itu, aku hanya menurut saja karena tidak kuasa menolak, kurasakannya sesuatu yang keras bulat, hangat dan panjang, Aku sempat sejenak mengelus-elus benda itu karena keingintahuanku, tapi kemudian perasaan malu muncul, kaget. Tapi, “Aahh” aku tak sempat berfikir lain, Om Jaka tidak memberi kesempatan sedikitpun padaku, ketika puting tetekku yang mungil mulai berdiri tegak dan mengencang dihisap kecil dan dilumat, vaginaku terasa makin geli dan makin basah, dan membuat birahiku memuncak. “Ahh.., ahh.., teruus.., ahh.., ohh”, sambil terus memainkan putingku, tangan Om Jaka terus menari naik turun antara lutut paha sampai pangkal paha yang putih mulus.

Tanpa sadar karena kenikmatan pangkal pahaku mulai membuka kembali perlahan, dia mengusap-usap lembut di bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantat. “Truuss.., aahh.., Uuuhh”, karena kegelian yang nikmat aku mulai membuka paha makin lebar, jari Om Jaka yang nakal mulai menyusup dan mengelus bibir vaginaku, birahiku memuncak sampai kepala “Om nikmat.., ahh.., terus ahh.., Ohh”. Aku menggelinjang dan berahiku makin membara serasa melayang. “Ahh.., teruuss.., Ooohh”. Om menempatkan kakinya di antara kedua pahaku perlahan dan aku sudah tidak peduli lagi akibat kepala ini dipenuhi gejolak birahi, bahkan sesekali aku mengangkat pantat mengimbangi elusan lembut di bibir vagina yang basah. “Om.., ahh.., terus Om, ahh.., Uhh”. Vaginaku yang basah terasa geli dan gatal yang nikmat sampai ujung kepala. Aku kagum melihat burung itu berdiri tegak dengan gagahnya, sedangkan vaginaku semakin geli dan gatal, aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan keperawananku, aku telentang dan mulai mulai membuka lebar-lebar pahaku.

Aku makin tertegun saat Om Jaka berada di atasku dengan burung yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan sikunya, bibir Jaka melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuh yang sensitif. Kuluman di puting yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vagina tampaknya dilakukan dengan hati-hati, makin membasah membuat nikmat tersendiri. “Omm.., ahh.., terus ssts.., ahh.., uhh”, aku makin memuncak sampai kepala terasa kesemutan, kupegang burungnya. “Ahh..” terasa hangat dan kencang. Vaginaku semakin basah geli dan gatal yang nikmat sampai ujung kepala, “aahh”. Aku tak tahan lagi, kubimbing dan kuusap-usapkan ujung burung itu ke lubang vaginaku, aku menginginkan burung itu masuk ke lubang dan merojok vaginaku yang sudah terasa sangat geli dan gatal, “Uhh.., aahh”, sambil merintih rintih. Dan dia mulai memainkan ujung burungnya sampai menyenggol- nyenggol selaput daraku. “Ooohh masukkan aahh”. Setelah beberapa saat, dengan hati-hati dan pelan-pelan ujung burung yang keras, hangat tapi lembut itu mulai masuk dan menembus selaput daraku, hatiku berdesir, “aahh”, aku mengejang saat selaput dara itu robek ditembus benda yang besar dan keras itu, tidak sakit, mungkin karena birahiku telah memuncak, bahkan nikmat, burungnya terasa terus masuk perlahan sampai setengahnya, ditarik pelan-pelan dengan hati-hati. “Ahh..”, terasa asing tapi menyenangkan.

Om Jaka tidak mau terburu-buru karena dia tidak menginginkan lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit karena belum terbiasa dan belum elastis, burungnya masuk lagi setengah, “Ahh.., Ohh..”, kali ini aku benar-benar melambung, aku hanya merasakan nikmat kegelian yang memuncak saat kurasakan burung itu keluar masuk merojok vagina, dan aku mulai menggelinjang, mengimbangi gerakan- gerakan Om Jaka sambil mendekap pinggang, pangkal pahanya kubuka lebar-lebar. “Omm.., ahh.., terus.., ahh.., Uhh”, burungnya terus menghunjam semakin dalam dan leluasa. Ditarik lagi, “Aahh..” dan masuk lagi, lubang vagina itu makin lama makin mengembang, hingga burung itu masuk sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Aku merasakan nikmat yang memuncak di kepala, perasaan melayang di awan- awan, semakin lama aku menahan gejolak birahi, tubuhku semakin bergetar-getar dan makin mengejang, dan sampai tak dapat tertahankan lagi, “aahh.., oohh.., uuhh”, vaginaku berdenyut-denyut melepas nikmat, perasaan ini serasa lega dan tersirat rasa senang, dan tubuhku lemas, karena telah mencapai puncak orgasme. Ada perasaan bangga yang menyelimuti dirinya.

Om Jaka kini semakin cepat merojok keluar masuk lubang vaginaku, “Ahh.., terus ahh..”, aku kembali merasakan nikmat yang memuncak. Badanku kembali bergetar dan mengejang, begitu juga dengan Om Jaka. “Ahh.., Ooohh.., Ohh.., aahh!”, terasa sesuatu menyembur hangat ke dalam vagina yang masih berdenyut nikmat. Om Jaka mengeluarkan burungnya yang terpercik darah perawanku dan cairan bening, dia berbaring di sebelahku, memeluk dan mengusap kepala, aku merasa impianku jadi kenyataan, merasa aman dan nyaman, tidak ada perasaan menyesal kehilangan keperawanan, apalah gunanya keperawanan dibandingkan kenikmatan yang diberikan Om Jaka barusan dan aku tidak ingin merusak keluarganya yang harmonis, aku cukup puas bila Om Jaka tetap memperhatikanku. Aku tidak mau menuntut tanggung jawab, karena semua kulakukan dengan rela. Kemudian dia tersenyum puas dan aku merebahkan kepala di atas dada laki-laki yang telah memberi kenikmatan sampai aku tertidur pulas.

Sejak saat itu aku menjadi semakin ketagihan, kami selalu meluangkan waktu, baik di rumah atau di penginapan sepulang sekolah, tanpa setahu Tante Tina tentunya


Kunjungi juga VideoXidn.tk